Sepanjang 2024, kedua belah pihak terlibat dalam berbagai perselisihan dagang. Uni Eropa menuduh Tiongkok melakukan subsidi ilegal dan praktik dumping, yang dibantah oleh Beijing.
Pada Oktober 2024, Uni Eropa menerapkan tarif tambahan untuk kendaraan listrik buatan Tiongkok sebagai hasil investigasi anti-subsidi. Selain tarif tambahan, Uni Eropa juga memiliki bea masuk standar sebesar 10% untuk mobil impor.
Kebijakan ini memicu protes keras dari Tiongkok, yang kemudian membalas dengan meningkatkan hambatan masuk bagi produk Uni Eropa. Keputusan Xi untuk tidak menghadiri KTT menunjukkan bagaimana Beijing memprioritaskan hubungan internasionalnya di tengah ketegangan yang meningkat.
Dengan hubungan dagang yang terus bergejolak, masa depan hubungan Tiongkok dan Uni Eropa masih belum pasti. Dunia kini menunggu apakah ketegangan ini akan mereda atau justru semakin memanas dalam waktu mendatang.