Sesekali tampak Karaeng Sioja mengibas-ngibaskan air pada dua indukan padi yang sudah diikat dengan dihiasi bunga-bunga dan daun-daun khas yang sudah diikat.
Setelah semua prosesi dilalui, maka hasil panen dari sawah adat itu disimpan di atas loteng rumah adat yang merupakan rumah panggung.
Untuk semua proses itu, Karaeng Sioja melibatkan generasi muda dengan membaurkan keturunan Kerajaan Marusu dengan warga setempat.
Hal tersebut sekaligus untuk mengajarkan secara tidak langsung kepada generasi muda keturunan kerajaan dan masyarakat setempat arti kebersamaan, berdemokrasi dan nilai-nilai budaya yang tidak boleh tergerus oleh zaman.